Halaman

Sabtu, 24 Agustus 2013

God’s Quiz Musim 1 Episode 1



Rupanya sulit untuk menutup ingatan akan drama satu ini. Dan jika terbengkalai di dalam otak, sama saja waktu berjam-jam yang saya habiskan untuk menonton dan menonton ulang serial ini, menjadi sia-sia. Karenanya, saya ingin membagi memori tersebut kepada orang lain. Jika tidak ada yang membacanya, setidaknya saya menuangkannya dalam bentuk yang lebih nyata, bukan angan-angan.
Saya sempat terpengaruh komentar yang mengecap seseorang yang menanggapi serius dialog ‘ilmiah’ suatu drama sebagai orang yang kurang kerjaan. Tetapi, kalau dipikir-pikir, jika saya tinggal diam setiap kali menemukan kekurangtepatan penggunaan jargon ilmiah, maka sama saja saya menerimanya sebagai hal yang benar. Saya melakukan pembiaran. Saya membuat bodoh diri sendiri.
Jadi, singkat kata, mudah-mudahan artikel sederhana ini bisa menjadi teman menonton God’s Quiz.

Episode 1

Seorang pria dalam balutan celana dan jaket hitam bertudung berlari tergopoh-gopoh di tengah hutan. Ia lalu terjatuh dari tebing dan mendarat di atas tupukan batu-batu besar dengan punggungnya. Susah payah ia merayapi bebatuan itu. Terik mentari sangat menyiksanya, dan iapun tak sadarkan diri. Dari dekat tampak seperti luka bakar di wajah dan tangannya. Gigi taringnya tersembul dari mulut, dan rambut-rambut pendek tumbuh di telapak tangan.

Adegan berikutnya menunjukkan kesibukan tim olah TKP kepolisian menjaga dan mengambil sampel dari tempat itu. Tubuh Sang Pria tergolek di atas batu.
Selanjutnya kita dibawa ke Kantor Pemeriksa Medis (=koroner=pemeriksa mayat) Rumah Sakit Hankuk, yang bekerja sama dengan pihak kepolisian. Tertulis pada layar:

Laboratorium Penyelidikan dan Ilmu Kriminal Nasional mendirikan Kantor Ahli Forensik regional di 5 rumah sakit universitas. Dari kelimanya, hanya satu di Universitas Hankuk yang menangani kasus terkait dengan penyakit langka dan memiliki hak penyelidikan mandiri.

Setting berpindah ke sebuah kamar operasi yang sibuk. Seorang dokter yang masih muda memimpin operasi itu. Ia disebut Profesor oleh rekannya, yang menanyakan apakah ia benar-benar tidak akan kembali lagi. Dengan ceria dan yakin ia menjawab, tidak akan, selamanya.

Sejurus berikutnya, ia berjalan dengan membawa kardus berisi barang –adegan klise yang menyimbolkan perpindahan tempat kerja- bersama seorang dokter yang tampak lebih senior. Ia terus berbicara, menyatakan rasa senang karena akhirnya lepas dari bau darah dan obat, dan lain sebagainya. Satu frase saja untuk menggambarkan karakter tokoh utama ini: muda dan cerewet.
Ia tampak terkejut ketika dokter senior itu mengenalkannya kepada dr. Cho, yang dideskripsikan sebagai dokter bedah autopsi terbaik di Korea. Hah. Selain dua coroner lain, ada pula detektif Kang Kyeong-hui yang dikirim dari kepolisian. Dokter muda itu diperkenalkan sebagai Han Ji-u yang mulai saat itu akan bertindak sebagai penasihat tim. Menilik dari ekspresi terkejut di wajahnya, posisi ini bukanlah yang Jin-u harapkan.
Benar saja, ia segera protes dan merajuk pada dokter senior yang membawanya ke sana. Han Ji-u didesak untuk menurut saja, mencobanya selama satu bulan, dan akan dipindah jika memang tidak suka.
Adegan berlanjut ke sesi pemeriksaan mayat. Ingat, nantinya akan ada adegan pembedahan, pengambilan dan penimbangan organ. Mungkin sebagian Anda akan mual-mual melihatnya.

Mayat di atas meja autopsi adalah pria berjaket hitam di awal adegan. Bekas jahitan berbentuk Y di dada hingga perut korban menunjukkan ini bukanlah pemeriksaan pertama terhadap mayat itu. Salah satu koroner mendeskripsikan bahwa waktu kematian korban antara 35-40 jamIa jatuh dan terbentur di tulang belakangnya. Kepalanya membentur batu menyebabkan rahang pecah dan semua gigi depannya lepas. Saya suka ilustrasi ala video X-ray yang menggambarkan letak-letak patah tulang dengan jelas. Impresif. Hanya saja ada yang tidak sinkron di sini. Korban jatuh pada punggungnya, tetapi bagian kepala membentur dari sisi samping, yang hanya mungkin terjadi jika korban jatuh telungkup. Okelah, kita abaikan itu.
Semua tim menganalisa dengan ekspresi biasa, kecuali Han Jin-u yang tampak tidak nyaman dengan aktivitas ini.
Tim koroner menyimpulkan bahwa penyebab kematian bukanlah karena korban terjatuh, tetapi disebabkan oleh infark miokardial akut, yang berujung pada terhentinya kerja jantung. Tetapi, tim belum bisa menyimpulkan apa yang memicu serangan jantung tersebut.
Luka bakar yang ada di tubuh korban diduga bukan disebabkan oleh api, tetapi karena terbakar matahari, dalam keparahan yang tidak biasa. Pemeriksaan itu tidak menemukan hal yang berbeda dari pemeriksaan pertama.
Han Jin-u berceletuk bahwa ini bukan serangan jantung normal. Dengan gayanya yang sarkatis ia menunjukkan bahwa serangan jantung ini tidak disebabkan oleh infark miokardial. Ia tidak melihat adanya clotting (penggumpalan) pada arteri koronaria. Untuk informasi, infark miokardia disebabkan oleh kematian sel-sel otot jantung, yang biasanya tampak sebagai bercak-bercak putih pada otot jantung. Kematian sel ini dipicu oleh tersumbatnya arteri koronaria yang mensuplai darah ke sel-sel otot jantung.
Singkatnya, proses infark miokardia adalah sebagai berikut:

arteri koronaria tersumbat> suplai darah ke bagian-bagian jantung terhenti> sel-sel jantung kurang makanan> sel-sel mati (bercak putih)> serangan jantung

Jadi, Han Ji-u menyimpulkan demikian mungkin karena ia tidak melihat adanya bercak-bercak putih tersebut pada otot jantung korban. Tapi tentu saja, pemeriksaan yang lebih akurat untuk membuktikan ada tidaknya penyumbatan ini adalah dengan mengambil irisan jantung dan mengamatinya dengan mikroskop. Itulah mengapa dr. Choi menghardik Jin-u, memangnya matamu itu mikroskop?! Bukan Jin-u kalau ia ciut. Karakter yang satu ini punya kepercayaan diri yang meluap-luap.

Sekarang giliran Detektif Kang memaparkan kehidupan korban. Kebetulan nama keluarga korban juga Kang, jadi jangan sampai bingung karena hal ini. Ia hidup sendirian, dan tempat ia jatuh berjarak cukup jauh dari tempatnya tinggal. Det. Kang menduga ada perkelahian sebelum korban terjatuh, karena jaketnya ditemukan di dekat TKP. Bisa jadi korban bukan terjatuh, tetapi didorong oleh seseorang.
dr. Choi menugaskan Jin-u untuk menyelidiki ke tempat tinggal korban bersama det. Kang. Jin-u keberatan, tetapi dokter senior yang tampak dihormatinya itu menegaskan bahwa ia harus ikut. Penyelidikan terhadap mayat tidak bisa hanya menyandarkan pada pemeriksaan terhadap tubuh saja. Petunjuk bisa diperoleh dari sejarah keluarga, gaya hidup, juga tempat korban makan dan tidur. Dan ini bukan hanya tugas detektif, tetapi juga dokter yang menangani kasus itu. Jlebb!

Intermezzo: rupanya saya tengah bersemangat. Belum seperempat dari durasi episode 1, rekap sudah sepanjang ini.

Det. Kang berusaha memegang kendali penyelidikan dengan menerapkan aturan-aturan. Dari peraturan itu, seolah Det. Kang menyamakan Jin-u seperti anak kecil yang bisa terlalu aktif dan berpotensi mengacaukan penyelidikan. Pada dasarnya, kepribadian Han Jin-u yang selalu menyahut pembicaraan sering membuat kesal tidak hanya det. Kang, tapi juga dr. Choi.
Det. Kang dan Han Jin-u menyelidiki kediaman korban, memeriksa TKP, dan berbicara dengan penduduk di sekitar tempat tinggalnya. Jin-u mencatat beberapa petunjuk dari rumah korban. Seorang penduduk mendeskripsikan penampilan dan perilaku aneh korban. Seorang lagi mengklaim korban telah melakukan sesuatu terhadap anak perempuannya. Tetapi, det. Kang segera menemukan ada ketidaksesuaian dalam pernyataan penduduk, karena korban hanya keluar malam, sedangkan kejadian yang menimpa anak  perempuan itu ada di siang hari. Dari sini kita tahu, bahwa det. Kang adalah detektif yang bisa diandalkan.

Dari hasil pemeriksaan laboratorium (yah, di sini saya kurang puas dengan penggunaan ilustrasinya. Penjelasan dan ilustrasi terasa tidak sinkron. Gambar di monitor lebih mirip ilustrasi jaringan hepar/ hati, tetapi dialog yang dibawakan Jin-u saat memperhatikan layar itu adalah tentang kerusakan kulit korban), Han Jin-u menyimpulkan bahwa serangan jantung bukan disebabkan oleh infark miokardia akut/ tiba-tiba, tetapi merupakan aritmia (ketidaknormalan detak jantung) yang disebabkan oleh abnormalitas sistem saraf autonom. Terjadi paralisis saraf yang berdampak pada kinerja jantung. Dari fakta ini det. Kang menyatakan terdapat kemungkinan pembunuhan tak terencana, dan menyarankan untuk menyelidiki perlakuan penduduk desa terhadap korban.
Penyelidikan terus mengalami kemajuan dengan ditemukannya petunjuk-petunjuk oleh det. Kang dan Han Jin-u yang melakukan penyelidikan secara terpisah, maupun bersama.
Dari semua petunjuk yang terkumpul, Jin-u menyadari bahwa korban menderita penyakit langka yang disebut Porphyria (porfiria).
Ringkasnya adalah sebagai berikut:

Porfiria adalah sekumpulan penyakit yang dicirikan dengan adanya penumpukan profirin dalam tubuh. Penumpukan porfirin disebabkan oleh gangguan pembentukan heme di sumsum tulang belakang dan di hati. Heme memiliki beragam fungsi, di antaranya menjaga hati tetap berfungsi normal dan merupakan bagian dari hemoglobin. Hemoglobin adalah komponen sel darah merah yang membawa oksigen.
Porfiria digolongkan menjadi tipe akut yang mempengaruhi sistem saraf (menyebabkan sakit di daerah perut, muntah, mati rasa, dan gangguan mental) dan tipe kutaneus yang mempengaruhi kulit (menyebabkan memar, gatal, dan bengkak). Ada pula porfiria yang meliputi keduanya, dan merupakan porfiria bawaan yang paling langka.

Sementara itu, Han Jin-u menjelaskan bahwa porfiria disebabkan oleh kegagalan perombakan darah. Bagian ini kurang tepat.  Porfiria disebabkan oleh gangguan pada saat pembentukan darah. Gejala yang dipaparkan Han Jin-u adalah anemia, sakit perut, mual, dan penurunan tekanan darah. Ini berdampak lanjut pada memucatnya kulit dan kencing darah. Kulit membentuk gelembung (terbakar) jika terpapar cahaya matahari. Sebagian pasien mengalami pertumbuhan rambut tubuh yang berlebihan dan terjadi perubahan bentuk rahang karena gigi memanjang. Ciri-ciri tersebut membuat penyakit ini juga disebut ‘Dracula Disease’.
Perlu dicatat bahwa tidak semua porfiria menunjukkan ciri-ciri drakula. Gejala yang dipaparkan oleh han Jin-u tersebut paling dekat dengan gejala porfiria yang disebut Gunther disease (Congenital Erythropoietic Porphyria=CEP). Penyakit ini adalah porfiria yang paling langka, secara internasional hanya terdapat 200 kasus. Beberapa sumber yang saya periksa tidak menyebutkan adanya pemanjangan gigi sebagai gejala penyakit, hanya perubahan warna gigi menjadi cokelat. Tidak disebutkan pula bahwa penyakit ini punya nama populer Dracula Disease. Sebutan Dracula Disease mungkin lebih tekait dengan sikap penderita yang menghindari matahari. Atau mungkin juga bagian dari efek dramatisasi serial ini.
Kembali pada kasus kita, Jin-u menggambarkan bahwa setelah korban terjatuh, ia  terpapar matahari yang bersinar terik. Tetapi, dengan kondisi tulang belakangnya remuk, ia tidak bisa bergerak menuju tempat berrteduh. Sakit yang dirasakan di kulit dan sarafnya menyebabkan shock, yang berlanjut pada aritmia dan terhentinya jantung.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, mengapa seorang yang sudah tahu tentang penyakitnya, keluar rumah pada siang hari yang terik, hanya menggunakan pakaian tanpa membawa pelindung yang lain. Pertanyaan lainnya adalah, bagaimana ia terjatuh.
Sedikit intermeso mengungkapkan bahwa sebelum menjadi dokter, Jin-u adalah ahli teknik robotik. Aha, rupanya dia seorang jenius. Ini sejalan dengan kepribadiannya yang super-percaya diri.
Penyelidikan selanjutnya mengungkapkan korban bukanlah orang yang jahat seperti diceritakan warga. Ia justru sangat peduli dan berteman baik dengan anak perempuan di awal cerita. Tuduhan buruk terhadap korban adalah bagian dari konspirasi warga dan developper untuk mengusir korban dari desa tersebut. Korban terjatuh saat disudutkan warga. Warga yang berkonspirasi sengaja tidak menolongnya, bahkan memaksa anak perempuan yang ditolong korban untuk tutup mulut.

Di akhir episode, telah terbangun pengertian antara Jin-u dengan det. Kang dan dr. Choi. Dalam sulih suara dialog penutup, dokter senior menanyakan keputusan Jin-u apakah tetap ingin keluar. Jin-u menjawab, tidak.

Jin-u: Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasa menemukan buku teks terbesar. Sangat sulit untuk sekedar membalikkan halamannya, dan jikapun bisa sangat sulit untuk membacanya. Apa sebenarnya yang membuatnya sangat sulit? Saya ingin mengetahuinya.
Dokter senior: Saya paham apa yang kamu maksud. Masalah yang harus kamu pecahkan dalam setiap kasus itu seperti kuis dari tuhan. Kuis yang dibuat agar manusia yang arogan tidak menjadi terlalu membanggakan diri. Tuhan menciptakannya dengan tujuan. Tetapi dalam kuis ini tidak ada petunjuknya. Itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus kamu pecahkan selamannya. PR yang sangat brutal.

Dunia investigasi forensik dalam drama ini rupanya dianalogikan sebagai kuis dari tuhan, yang bahkan seorang jenius seperti Han Jin-u merasa kesulitan memecahkannya. Setiap satu pertanyaan terjawab, muncul pertanyaan yang lain. Bahkan, hingga akhirnya suatu kasus terpecahkanpun, masih tetap tersisa tanda tanya dalam hati: Mengapa tuhan membuat semua ini terjadi?

Yep, itulah God’s Quiz musim 1 episode 1. Lepas dari semua kekurangannya, saya mengapresiasi niat produser untuk mengangkat berbagai macam penyakit langka, yang jarang diperhatikan orang. Sebagiannya dianggap orang awam sebagai kutukan, nasib sial dalam keluarga, atau superstisi lainnya. Secara ekonomi, penderita menjadi beban keluarga, karena pengobatannya menelan biaya yang besar. Sebagian lagi belum berhasil ditemukan obatnya. Mungkin penderita tidak ada di sekitar kita, tapi mereka ada di suatu tempat di bumi ini. Mereka dan keluarganya berjuang untuk menyambung harapan hidup.
Dan tentu saja, saya terkesan dengan Ryu Deok-hwan.

Catatan akhir: pada tahun 1998 telah dilaporkan kesuksesan transplantasi sumsum tulang belakang untuk mengobati penyakit Gunther Disease.

Referensi:

GLove (film)

atas: bisakah (kami)? (inilah) impian pertama kami
bawah (di atas judul): teriakan (fighting!) tanpa suara


Setelah menonton Take Off, saya menjadi lebih berminat memburu film-film korea bertema olahraga. Saat itulah saya menemukan GLove.


Jeong Jae-young
 Glove mengisahkan seorang pitcher (Jang Ki-beom) tim bisbol liga pelajar (SMP) yang memenangi kejuaraan, tetapi pada saat yang sama mendapati telinganya tidak lagi bisa berfungsi. Sementara itu, seorang atlet bisbol liga utama Korea (Jeong Jae-young) tengah berada dalam fase kemunduran karir. Ia sering mabuk-mabukan dan terlibat dalam perkelahian. Manajer tim memerintahkannya menjadi pelatih tim bisbol SMA luar biasa Sung-shim sementara menunggu proses penjatuhan sanksi. 

Jang Ki-beom
Temannya, yang juga manajernya, menyambut baik hal ini. Karena selain bisa memperbaiki nama baiknya, hal ini bisa membangkitkan memori masa muda ketika masih membangun karir bisbol.
Berkebalikan dengan semangat tim bisbol tuna rungu yang ingin masuk ke liga pelajar nasional (semacam liga bisbol pelajar SMA yang diadakan di Stadion Koshien, Jepang), atlet itu skeptis bahkan untuk berpikir bahwa hal itu adalah mungkin. Ia beralasan dunia bisbol profesional sangatlah keras dan tidak menyenangkan. Akan lebih keras lagi bagi tim ini yang semua anggotanya tuna rungu. Menyemangati mereka untuk masuk ke liga nasional akan sama saja dengan memberikan harapan kosong. Guru perempuan yang sekaligus pelatih tim sekolah itu berusaha keras menggugurkan anggapan itu. Ia terus meyakinkan dan menunjukkan potensi anak-anaknya.







 Di lain pihak, pitcher muda yang dikisahkan di awal cerita telah menjadi salah satu murid di SMA-LB itu. Ia tidak lagi bermain bisbol, bahkan menjauhinya. Meskipun demikian, ketika melihat tim bisbol sekolahnya, tampak di wajahnya rasa ingin bergabung.
Setelah melihat tekad dan semangat seluruh anggota tim, Si atlit liga utama akhirnya bersedia melatih dengan sungguh-sungguh. Ketika salah satunya keluar, atlit itu berusaha merekrut si pitcher muda. Awalnya menolak, tetapi akhirnya luluh juga dengan provokasi dari Sang atlet professional. Dengan semangat yang baru, pitcher muda itu bergabung dalam tim. Mulailah mereka berlatih meningkatkan teknik bisbol mereka sekaligus kerja sama tim. Dinamika antar pelatih, antara pelatih dan tim, antar sesama anggota tim, antara sekolah dan pelatih, serta masalah karir si atlit bisbol, semua terjalin rapi.
Lee Hyeon-u
Sebagaimana Take Off, film ini juga didasarkan pada kisah nyata satu tim bisbol yang semua anggotanya tuna rungu. Disebutkan bahwa sampai saat ini tim tersebut masih berjuang keras agar lolos kualifikasi untuk masuk ke liga pelajar nasional.
Kim Hye-seong
Untuk film ini, perlu saya sorot aktor-aktor muda yang memerankan anggota tim bisbol SMA-LB. Mereka total dan betul-betul meyakinkan sebagai orang tuna rungu. Sebutlah salah satunya, Lee Hyeon-u. Saya jauh lebih terkesan dengan aktingnya dalam film ini, yang hanya muncul beberapa menit, dibandingkan dengan saat ia bermain di 16 episode drama To the Beautiful You. Oke, sebenarnya masalah drama itu bukan karena aktingnya yang kurang bagus, tetapi lebih ke karakternya yang kurang dalam. Tetapi apa yang ingin saya sampaikan adalah, film ini berhasil mengeksploitasi dengan optimal kemampuan akting setiap aktornya, khususnya para pemeran siswa tuna rungu.

 Dan, oh, tentu saja. Bagaimana mungkin saya melupakan Kim Hye-seong, catcher yang bagaikan kapten tim sekaligus mediator bagi teman-temannya.





 SS: seorang siswi menari agak sensual
VS: aman


Take Off (film)




atas: Kaupun juga tim nasional!
bawah (oranye): Langitlah yang kuimpikan!


Saya benar-benar tidak menduga dari judulnya bahwa ini adalah film yang mengangkat olah raga. Dari judul versi internasionalnya (Take Off), saya mengira akan berurusan dengan dunia penerbangan. Hehe.. Setelah mengetahui judul asli film ini adalah 국가대표 (secara harfiah = perwakilan negara, dialihbahasakan menjadi tim nasional), saya menyadari kebodohan itu.
Take-off didasarkan pada kisah nyata tim nasional ski jump Korea Selatan, yang berjuang mulai dari nol hingga puncak prestasi.

Sebelum
Sesudah

 Alkisah suatu kota di Korea Selatan berambisi menjadi tuan rumah olimpiade musim dingin. Sebagian persyaratannya, kota itu harus memiliki tim nasional untuk salah satu olah raga yang dipertandingkan. Maka diputuskanlah untuk membentuk tim ski jump. Pak Pelatih (Seong Dong-il) berusaha mengumpulkan atlet-atlet potensial. Ia berusaha merekrut mantan anggota timnas ski jump Amerika Serikat (Ha Jeong-u). Atlet berdarah korea itu diadopsi oleh keluarga Amerika dan ia remigrasi ke Korea untuk mencari Ibu kandungnya. Ia menerima tawaran dari pelatih agar mendapat kesempatan naturalisasi. Selain dia, Sang Pelatih juga merekrut tiga orang mantan pe-ski amatir yang karirnya terhenti oleh kasus steroid. Walaupun sama-sama ski, ski jump memerlukan keahlian khusus yang berbeda dari ski yang telah mereka geluti. Jadilah semuanya belajar dari nol di bawah asuhan pelatih dan mantan atlit timnas Amerika itu. Mereka menggunakan fasilitas latihan seadanya untuk berusaha mengontrol postur dan keseimbangan tubuh, berusaha mengatasi ketakutan akan ketinggian dan kecepatan tinggi. Semuanya dibumbui dengan kendala masalah keluarga, keuangan, sedikit masalah politis, dan keberuntungan.

Latihan
 
Setahap demi setahap tim ini menjadi kuda hitam di beberapa kejuaraan ski jump, hingga lolos kualifikasi untuk mengikuti olimpiade musim dingin. Di beberapa olimpiade, mereka sukses meraih medali emas dan perak. Balutan drama film ini sangatlah bagus dan mengharukan. Saya bukan tipe yang mudah meneteskan air mata ketika melihat adegan sedih, tetapi film ini sukses membuat saya sangat terharu melihat kerja keras mereka membuahkan hasil dan membanggakan keluarga para atlet.

 
Kejuaraan

Di akhir film, disebutkan bahwa film ini didedikasikan untuk timnas ski jump Korsel yang selama sepuluh tahun, telah mengukir berbagai prestasi internasional. Sayangnya, hingga saat ini ski jump masih merupakan olah raga yang belum populer di Korea Selatan. Tim nasionalnya masih saja terdiri dari lima orang itu.


SS: sedikit, adegan berciuman
VA: sedikit, adegan berkelahi melawan kelompok gangster